Hilangnya Ilmu

Hilangnya Ilmu

Ahmad bin Jamil Al-Marwazi menuturkan, Ibnu Al-Mubarak r.a. diberi menyadari bahwa Ismail bin Ghalabah r.a. telah diangkat menjadi pejabat urusan sedekah. Lalu, Ibnu Al-Mubarak r.a. menulis surat kepadanya.

“Hai orang yang membawa dampak Ilmu menjadi elang, yang menyambar harta orang-orang miskin.

Engkau menyiasati dunia dan kenikmatan, dengan dalih yang menyirnakan ad-din.

Karenanya, engkau telah menjadi kegilaan, padahal pada mulanya engkau adalah penyembuh bagi orang-orang sinting.

Di manakah pengetahuan yang engkau dapatkan, berasal dari Ibnu Aun dan Ibnu Sirin?

Di manakah petuahmu yang pernah engkau keluarkan, tentang mendekati pintu para pemimpin?

Jika ini sebuah keterpaksaan, demikianlah pula keledai pembawa Ilmu yang terperosok di dalam lumpur yang licin.”

Taktkala ia terima dan membaca postingan ini, ia menangis tersedu-sedu dengan penuh penyesalan.

Banyak ulama saleh yang jauhi diri berasal dari kekuasaan karena ingin menjaga dirinya sehingga tidak terperosok di dalam lubang kehinaan. Berikut ini adalah pendapat para ulama tentang jabatan dan kekuasaan.
Al-Ahnaf bin Qais menyebutkan bahwa penyakit yang bakal menyebabkan kerusakan alim ulama adalah ambisi untuk meraih kekuasaan.
Al-lmam Ahmad pernah berkata kepada Sufyan bin Uyainah, “Cinta kekuasaan lebih disenangi orang dibandingkan emas dan perak. Barangsiapa berambisi mendapatkan kekuasaan, ia bakal mencari-cari aib orang lain.”
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Kekuasaan lebih disenangi oleh pakar qira’ah dibandingkan emas merah.”
Ibnu Abdus berkata, “Setiap kali makin tambah kemuliaan seorang alim dan makin tambah tinggi derajatnya, makin cepat dia merasa ujub. Kecuali orang yang dijaga oleh Allah SWT dengan taufiq-Nya dan membuang ambisi pada kekuasaan berasal dari dirinya.”
“Ilmu hadis adalah disiplin pengetahuan yang mulia. Yang cocok untuk pengetahuan ini hanyalah akhlak mulia dan prilaku yang terpuji. Ilmu ini bakal menghalau akhlak tidak baik dan prilaku tercela. Ilmu hadis adalah pengetahuan akhirat, bukan pengetahuan dunia. Barangsiapa yang ingin mendengarkan periwayatan hadis atau ingin menyampaikan pengetahuan hadis, hendaknya ia berupaya meluruskan dan mengikhlaskan niat. Dia pun mesti membersihkan hatinya berasal dari tujuan-tujuan duniawi dan segenap nodanya. Dia pun mesti berhati-hati berasal dari penyakit dan kotoran berasal dari ambisi pada kekuasaan.”
Salah satu perihal yang membedakan antara ulama dunia dan ulama akhirat adalah ulama dunia tetap mencermati kekuasaan, puas bakal pujian dan massa. Sementara, ulama akhirat jauhi perihal tersebut. Mereka benar-benar menjaga diri berasal dari perihal itu dan menyayangkan orang-orang yang terkena penyakit tersebut. Namun, karena telah punya kebiasaan dan memiliki ambisi mendapatkan kedudukan telah menguasai asumsi mereka, tinggallah pengetahuan cuma terucap melalui lisan sebagai sebuah adat, bukan untuk diamalkan.

Baca Juga :