HRD Perusahaan Manufaktur Mobil asal Jepang

Perusahaan—HRD Perusahaan Manufaktur Mobil asal Jepang

HRD Perusahaan Manufaktur Mobil asal Jepang

Perusahaan Manufaktur Mobil asal Jepang ini merupakan perusahaan multinasional yang dikenal namanya secara global. Sebagai perusahaan yang cukup bergengsi dan tentunya memiliki kemampuan finansial serta sistem manajemen yang baik, Perusahaan Manufaktur Mobil asal Jepang ini menetapkan rate inflasi sendiri dalam skala upah nya. Dengan kata lain, perusahaan ini menentukan perhitungan kenaikan inflasi yang terjadi pertahun dan tentunya berdampak terhadap kenaikan gaji buruh/pekerja. Berdasarkan pemaparan Bapak Didit, selaku HRD pada perusahaan Perusahaan Manufaktur Mobil asal Jepang, beliau menegaskan bahwa memang seharusnya sistem pengupahan seperti itu. Akan tetapi ada juga perusahaan-perusahaan yang selalu menyamakan rate upah dari waktu ke waktu.

Dalam menentukan upah, ada dua faktor penting harus dipertimbangkan; Savingsdan Investment. Kedua faktor tersebut merupakan kunci dari kesuksesan sebuah perusahaan. Kepandaian perusahaan dalam mengalokasi dana dan profit untuk kedua hal tersebut terkadang menyampingkan interest untuk buruh/pekerja itu sendiri.

Perihal isu ketidakpatuhan perusahaan dalam menjalani peraturan upah KHL dan sistem inflasi tentu terjadi. dalam pemaparannya beliau menyatakan bahwa pada sistem KHL pun masih terdapat kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan, permasalahan yang sering terjadi berupa; perusahaan tidak sanggup untuk mengikuti UMP(Upah Minum Provinsi), selalu melakukan penangguhan, dan mereka (perusahaan) belum tentu kuat secara finansial. Adapun pendapat beliau yang menyinggung tentang pembedaan rate upah secara sektoral akan lebih baik, dibanding perbedaan atas dasar wilayah.

Dengan pergeseran sistem pengupahan sesuai inflasi dan pertumbuhan ekonomi, perusahaan diharapkan lebih mudah untuk memberikan upah yang layak bagi para pekerja dan menghindari pertemuan pertahunan yang cenderung berjalan dengan tidak efektif, dengan survei yang sering kali terlambat dan bisa berujung konflik jika tidak menemukan titik konsensus. Dari ketidakseragaman pendapat itulah pendekatan inflasi dan pertumbuhan ekonomi akan lebih efisien karena wewenang pengupahan dikembalikan lagi kepada perusahaan.

Akan tetapi pendekatan ini pun juga tidak sepenuhnya memberikan ruang yang kondusif bagi hubungan buruh/pekerja dengan perusahaan. Perusahaan yang notabennya memiliki bargaining power lebih besar akan menutup kemungkinan membuka ruang untuk perundingan kedua belah pihak, tentunya semua perusahaan tidak bisa disederhanakan sepertu itu. lebih lanjut menurut beliau, penerapan sistem pengupahan inflasi dan pertumbuhan ekonomi cenderung lebih mudah untuk diterapkan oleh perusahaan besar yang memiliki keunggulan finansial dan sistem manajemen yang baik, sebaliknya perusahaan yang jauh dari unggul dan memiliki sistem manajemen yang buruk akan sangat kesulitan menerapkan sistem upah sesuai inflasi dan pertumbuhan ekonomi.