Ini Kisah Cut Darmayanti, Mantan TKI yang Bangun Sekolah Gratis untuk Anak Nelayan

Ini Kisah Cut Darmayanti, Mantan TKI yang Bangun Sekolah Gratis untuk Anak Nelayan

Ini Kisah Cut Darmayanti, Mantan TKI yang Bangun Sekolah Gratis untuk Anak Nelayan
Ini Kisah Cut Darmayanti, Mantan TKI yang Bangun Sekolah Gratis untuk Anak Nelayan

AROMA khas laut terasa begitu kuat ketika tiba di desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang. Sebuah bangunan sederhana dengan dinding kawat membentuk jaring, terlihat dipenuhi anak-anak usia 5-6 tahun. Cut  Darmayanti Sihombing (31), gadis berkerudung itu sedang mengajar sekitar 20 anak  di pagi hari di sekolah PAUD-nya.

“Hari ini anak-anak belajar mengecat,” kata Yanti kepada GoSumut, sambil menjelaskan,

‘mengecat’ itu, dalam bahasa anak-anak laut ini adalah mewarnai.

Ini adalah tahun ke-5 sekolah Yanti, PAUD Lembaga Pendidikan Pintar Bagan Percut melaksanakan proses belajar mengajar.

Yanti mulai mencicil pendirian sekolahnya ini sejak tahun 2007, saat ia menjadi TKI di Malaka, Malaysia. Yanti yang pada masa itu baru tamat SMA bekerja ke Malaysia untuk mengumpulkan uang agar dapat kuliah. Dua tahun menjadi TKI, dia kembali ke tanah air dan ditawari membeli tanah seluas 20 x 60 meter di Percut Sei Tuan, oleh seorang kerabat yang sedang membutuhkan uang. Karena ingin membantu, Yanti pun membeli tanah itu.

Tapi dari sinilah rencana sekolah untuk anak-anak nelayan itu bermula. Karena kerap

mengunjungi desa itu, Yanti menyadari bahwa anak-anak nelayan  usia dini di sana tidak ada aktivitas di pagi hari. Banyak anak juga tidak bisa sholat dan membaca Alqur’an.

“Ketika saya tanya anak-anak itu apa kalian tidak sekolah? Tidak bu, kata mereka. Kalau saya buat sekolah, kalian mau gak nanti belajar sama saya? Ternyata anak-anak semua bilang mau dan sangat senang. Jadi kemudian saya putuskan saya kerja lagi jadi TKI untuk mengumpulkan uang buat membangun sekolah ini, dan akhirnya saya bisa buat sekolah. Cita-cita kuliah saya tunda dulu saat itu karena ada yang lebih prioritas,” kisah Yanti.

Pada awal berdirinya di tahun 2011, PAUD Yanti hanya berupa bangunan rumah panggung

dari kayu beratap nipah, yang di bawahnya tergenang air laut.  Yanti tinggal sendiri di rumah panggung yang lokasinya jauh dari pemukiman warga ini. Dari pagi hinga sore, ratusan anak-anak belajar secara gratis bersama Yanti.

Diintimidasi Warga

Namun ternyata jalannya tak selalu mulus. Karena banyak anak belajar di pagi hari, maka sedikit anak yang bisa membantu orang tua melaut. Akibatnya Yanti menjadi sasaran kemarahan warga. Banyak intimidasi yang datang kepadanya karena dianggap telah mengganggu warga dalam mencari nafkah. Sebab hampir seratus persen anak-anak di desa itu pergi melaut bersama orang tua.

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/It98Lqf67pWUf0fd4BRcwf