Investasi Tepat untuk Dana Pendidikan Anak

Investasi Tepat untuk Dana Pendidikan Anak

Investasi Tepat untuk Dana Pendidikan Anak
Investasi Tepat untuk Dana Pendidikan Anak

Salah satu tugas dan tanggung jawab orang tua saat membesarkan seorang anak

adalah memastikan agar si buah hati mendapatkan pendidikan yang layak.

Untuk itu, dana pendidikan menjadi sesuatu yang penting untuk dipersiapkan sedini mungkin. Jangan sampai masa depan anak harus terhambat karena orang tua kurang cermat dalam menyiapkan dana pendidikan tersebut.

Tidak cukup dengan menabung, orang tua juga harus berinvestasi pada instrumen yang tepat.

Perencana keuangan KikauTalk Kaukabus Syarqiyah atau yang akrab disapa Kiki mengatakan, instrumen investasi tersebut akan sangat tergantung dengan besaran biaya yang dibutuhkan dan lama waktu yang diperlukan untuk mencapai target biaya yang ditetapkan.

“Jadi pertama kali goal sekolahnya di mana dulu. Di mana dan berapa [bayarannya]. Karena kan pasti akan berbeda, ada sekolah negeri, swasta, terpadu, islam, dan sebagainya,” kata Kiki kepada CNBC Indonesia.

Pilihan Redaksi

SMA Negeri dan Swasta Terbaik di DKI Jakarta
Tak Kalah dengan Swasta, Ini Profil 3 SMP Negeri Terbaik DKI
Pesan Mendikbud: Sekolah Mahal Bukan Jaminan Masa Depan!
Pilih Sekolah Swasta untuk Buah Hati? Cermati Hal Ini

Terkait waktu, Kiki menyarankan sebaiknya dana pendidikan sudah terkumpul satu tahun sebelum masuk sekolah.

“Jadi, kalau misalnya nyiapin, katakan aku baru punya anak usia 0 tahun, baru lahir, tapi anakku mau masuk SD (Sekolah Dasar). Asumsinya kan masuk SD [pada usia anak] 7 tahun. Berarti aku harus nyiapin 6 tahun,” ujarnya.

Nah, intrumen investasi apa saja yang tepat?

1. Play Group/Taman Kanak-kanak (PG/TK)

Jika diasumsikan anak akan masuk jenjang pendidikan ini saat usia 3 tahun, maka dana pendidikan anak harus disiapkan selama 2 tahun sejak lahir. Maka menurut Kiki, instrumen investasi yang tepat untuk mengumpulkan uang dalam jangka pendek ini adalah tabungan atau deposito.

2. Sekolah Dasar (SD)

“Kalau masuk SD kan tadi butuh waktu 6 tahun [sejak lahir], artinya jangkanya menengah, itu bisa ke reksadana pasar uang atau emas,” kata Kiki

3. Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Untuk jenjang ini, orang tua membutuhkan waktu sekitar 12 tahun sejak lahir. Dengan jangka waktu tersebut, reksadana campuran, atau saham bisa menjadi pilihan.

4. Sekolah Menengah Atas (SMA) dan S1

“Kalau buat SMA atau S1 kan itu lebih panjang lagi, berarti mungkin bisa ke saham, atau mungkin properti yang kira-kira belasan tahun kemudian bisa dijual,” jelasnya

“Biasanya yang angka [biaya] nya agak gede itu ada di dua jenjang, satu jenjang SD, kedua jenjang S1. Kalau SMP atau SMA itu cenderung sama angkanya. Kenapa ko SD besar angkanya? Karena dia enam tahun. S1, negeri maupun tidak negeri itu gede loh biayanya. Kenapa gede? Karena memang lebih complicated,” lanjutnya.

Selain biaya sekolah anak, ternyata ada satu hal lagi yang harus disiapkan orang tua, yaitu dana untuk mendukung keterampilan (skill) anak. “Karena sekarang pekerjaan kita sudah jauh lebih terspesialisasi. Dulu perencana keuangan, siapa sih yang pernah dengar? Atau chef, sekarang sudah booming, naik kelas. Dulu dianggap tukang masak biasa,” jelas Kiki. (dru)

 

Sumber :

http://ojel.student.umm.ac.id/sejarah-pulau-jawa/