IPB Buka Posko Mahasiswa Tanggap Bencana di Lokasi Bencana Tsunami Banten

IPB Buka Posko Mahasiswa Tanggap Bencana di Lokasi Bencana Tsunami Banten

IPB Buka Posko Mahasiswa Tanggap Bencana di Lokasi Bencana Tsunami Banten
IPB Buka Posko Mahasiswa Tanggap Bencana di Lokasi Bencana Tsunami Banten

Pusat Studi Bencana (PSB), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

(LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) akan membuka Pos Komando (Posko) Mahasiswa Tanggap Bencana (Mantab) di wilayah Ujung Jaya Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten.

Hal ini disampaikan Sekretaris PSB LPPM IPB, Dr. Perdinan saat memberikan laporan survei awal kepada Kepala LPPM IPB, Dr. Aji Hermawan di Kampus IPB Dramaga, Bogor (26/12).

Pada tahap awal, PSB sudah mengirimkan tiga mahasiswa untuk melakukan survei awal dan mendistribusikan bantuan. Untuk tahap kedua, yang akan diberangkatkan tanggal 28 Desember nanti, PSB akan kirimkan 15 mahasiswa dari berbagai departemen.

“Mereka akan melakukan pendataan terkait agromaritim

(pertanian, perikanan dan peternakan). Kita akan bantu Dinas Pertanian. Nanti dari situ kita akan tentukan apa yang bisa IPB berikan dalam perannya sebagai perguruan tinggi sehingga bisa lakukan langkah aksi yang tepat. Mungkin kita akan ada pendampingan seperti trauma healing, IPB Care, Mobil Galau dan lain-lain. Mahasiswa yang bergerak sekarang multidisiplin. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Lawalata, Himasper, Himakova dan lain-lain juga akan kita rangkul,” ucap Surya Gentha Akmal, Koordinator Tim Mantab.

Menurutnya Tim Aksi Sigap (TAS) Mantab ini ingin memetakan seperti apa dampak bencana Tsunami Banten dan Lampung ini dan upaya apa yang bisa dilakukan untuk pemulihan pasca bencana. Garda terdepan adalah mahasiswa dengan arahan dari dosen-dosen di IPB.

“Lokasi posko dipilih di daerah Ujung Jaya, Sumur karena mengikuti

arahan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yakni harus minimal satu kilometer dari bibir pantai. Kami memanfaatkan rumah dari salah satu dosen IPB untuk dijadikan posko,” imbuhnya.

Selain itu, untuk keselamatan relawan, Dr. Perdinan mengatakan bahwa PSB sedang memikirkan untuk melakukan vaksinasi malaria kepada tim yang akan diberangkatkan. Tim Mantab juga tidak diwajibkan berada di posko sepanjang hari dan diarahkan untuk berkontribusi bersama tim-tim tanggap darurat lainnya.

“Keberadaan perguruan tinggi di lokasi bencana itu penting untuk perencanaan post disaster. Untuk melihat, setelah bencana terjadi apa yang bisa IPB lakukan. Kita juga berencana untuk membuat kajian Damage and Lost Analysis (DALA). Kami sudah kembangkan metode DALA yang basisnya milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tapi dengan tambahan analisis kerentanan untuk post disaster. Selain itu, PSB juga sedang menyusun peta bencana. Ini untuk pemetaan daerah potensi bencana dan menjadi database daerah-daerah potensial, sehingga dapat dijadikan bahan rujukan zonasi,” ujarnya.

Menurutnya, PSB melalui program TAS Mantab ini ingin menjadi trigger bagi perguruan tinggi lainnya untuk bisa masuk mulai dari sebelum kejadian, saat kejadian dan sesudah kejadian bencana dengan fokus pada visi dan misinya IPB saat ini yakni agromaritim. “Tujuan kami adalah konsep agro maritimnya IPB itu juga berbasis kebencanaan. Bagaimana kita bisa membangun pertanian kalau banyak bencana yang terjadi,” tandasnya. (Zul)

 

Sumber :

https://www.sudoway.id/