Keberagaman Kebudayaan dalam Kehidupan Masyarakat Majemuk

Keberagaman Kebudayaan dalam Kehidupan Masyarakat Majemuk

Keberagaman Kebudayaan dalam Kehidupan Masyarakat Majemuk
Keberagaman Kebudayaan dalam Kehidupan Masyarakat Majemuk
Berkaitan dengan keberagaman kebudayaan dalam kehidupan masyarakat majemuk, terdapat berbagai permasalahan, antara lain;

1. Etnosentrisme

Masalah besar yang melekat pada pluralisme kebudayaan adalah konsep etnosentrisme, yakni kepercayaan bahwa kebudayaan sendiri lebih baik daripada semua kebudayaan lain. Menurut Melvile Herkovits, setiap kebudayaan yang melembagakan etnosentrisme akhirnya mendasarkan kebijaksanaannya atas keadaan psikokultural yang tidak riil. Salah satu contoh bentuk etnosentrisme yang paling mengesankan dalam sejarah kehidupan manusia modern adalah Nazi Jerman. Orang Jerman di bawah Hitler menganggap dirinya sebagai ras terpilih yang ditakdirkan untuk memerintah dunia.
Mereka ingin menanamkan kebudayaan mereka, yakni; kesenian, politik, teknologi, bahasa, dan agama mereka di negara-negara yang mereka taklukkan. Pada prinsipnya sikap etnosentrisme memiliki kecenderungan destruktif terhadap kebudayaan-kebudayaan lain, sehingga mengakibatkan disintegrasi dan disorganisasi dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

2. Anomie

Anomie adalah suatu gejala sosial yang sangat unik sebagai akibat adanya perubahan sosial-budaya yang selalu bergantian, sementara itu sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat tidak mengalami perubahan. Oleh sebab itu, masyarakat seolah kehilangan pedoman untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Dalam sejarah kehidupan manusia, setiap pergantian pola kepemimpinan suatu kelompok masyarakat atau negara akan terjadi gejolak yang cenderung bersifat anarkhis. Keruntuhan rezim Saddam Hussein di Irak menyebabkan terjadinya kerusuhan, penjarahan, dan tindak kekerasan di seluruh penjuru Irak. Anomie terjadi sebagai dampak negatif terjadinya perubahan kebudayaan yang bersifat frontal.

3. Cultural lag

Proses penyebaran kebudayaan asing tidak selalu berlangsung serentak, melainkan kadang hanya sepotongsepotong, sehingga menimbulkan suatu bentuk ketimpangan kebudayaan atau cultural lag. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan bentuk perubahan kebudayaan yang berasal dari proses difusi atau penyebaran kebudayaan yang tidak disertai dengan penyesuaian sikap mental yang selaras dengan perubahan kebudayaan, akan mengakibatkan ketertinggalan budaya atau ketimpangan budaya.
Dalam kehidupan masyarakat luas tampak nyata bahwa modernisasi yang terwujud dalam bentuk kebudayaan materiil tidak diimbangi dengan kemajuan kebudayaan immateriil. Contoh: banyak pesawat telepon umum yang tidak berfungsi karena ulah tangan jahil. Salah satu contoh konkret adanya ketimpangan budaya di tengah masyarakat, di mana masyarakat mau menerima hasil teknologi maju tanpa diimbangi dengan pengetahuan yang cukup tentang perlunya perawatan terhadap benda-benda teknologi modern itu.
Menurut William F. Ogburn, banyak permasalahan yang disebabkan oleh ketidakmampuan manusia menyesuaikan diri dengan problema yang terus menerus muncul dalam kebudayaan dan lembaga-lembaganya. Suatu ketertinggalan (lag) juga terjadi apabila laju perubahan dari dua atau lebih unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai korelasi tidak sebanding, sehingga unsur yang satu tertinggal oleh unsur lainnya. Terutama dalam hal kebudayaan materiil dengan kebudayaan nonmateriil.

4. Mestizo culture

Mestizo culture, yakni suatu proses percampuran unsur kebudayaan yang satu dengan unsur kebudayaan lain yang memiliki simbol dan sifat berbeda. Ciri yang tampak dari perubahan ini yaitu sifat formalismenya yang hanya dapat meniru bentuknya tanpa mengetahui arti sesungguhnya. Contohnya; peningkatan pola pamer kekayaan akibat dari iklan atau promosi yang ditawarkan.
Kondisi psikologis yang terkait dalam gejala mestizo culture adalah munculnya kecemasan dan ketidakpuasan seseorang terhadap apa yang telah dimilikinya. Kondisi semacam ini merupakan sasaran empuk bagi produsen benda-benda konsumsi yang terus menerus menawarkan produk terbarunya setiap saat. Kondisi demikian ini memudahkan munculnya disintegrasi sosial akibat adanya kesenjangan antara masyarakat kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/tabel-sistem-periodik-unsur-kimia-dan-gambar-hd/)

5. Rejection (penolakan)

Proses perubahan kebudayaan yang berlangsung terlalu cepat sering menimbulkan penolakan dari sejumlah besar anggota masyarakat, khususnya dari kalangan generasi tua atau kelompok konservatif yang masih sangat memegang teguh adat istiadat tradisional. Akulturasi dalam tingkat tertentu besar kemungkinannya akan timbul pemberontakan dan revolusi, contohnya terjadinya Revolusi Kuba dan Revolusi Merah di Cina.
Penerapan program keluarga berencana di Indonesia pada awalnya mendapatkan banyak tantangan. Kalangan tertentu banyak menentang program keluarga berencana sebagai suatu perilaku menyimpang yang melawan kodrat. Namun dalam perkembangan lebih lanjut program keluarga berencana diterima sebagai salah satu alternatif terbaik untuk mengatasi laju kepadatan penduduk.
Berbagai usaha telah dilakukan manusia untuk mengatasi berbagai masalah sosial. Berbagai analisis dan metode telah diterapkan, namun permasalahan selalu ada. Metode yang dipergunakan dalam pemecahan masalah sosial ada yang bersifat preventif dan ada pula yang bersifat represif.
Metode pemecahan masalah yang bersifat preventif lebih sulit diterapkan karena harus didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap sebab-sebab terjadinya masalah sosial.
Adapun metode represif lebih banyak dilaksanakan, yakni dengan cara mengambil suatu tindakan untuk mengatasi munculnya gejala permasalahan. Di dalam mengatasi masalah sosial tidak perlu semata-mata melihat aspek sosiologis namun juga aspek-aspek lainnya. Dengan demikian digunakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan pada khususnya untuk memecahkan masalah sosial yang dihadapi.
Berkaitan dengan masalah disorganisasi sebagai akibat adanya perubahan kebudayaan yang berlangsung secara terus menerus, salah satu usaha untuk mengatasi masalah disorganisasi adalah dengan mengadakan suatu perencanaan sosial (social planning) yang baik. Untuk mengadakan perencanaan sosial yang baik terlebih dahulu harus ditelaah masalah-masalah sosial yang sedang dihadapi masyarakat.
Perencanaan sosial (social planning) menjadi ciri umum bagi masyarakat yang sedang mengalami perubahan atau perkembangan. Menurut pandangan sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf yang modern dan kompleks. Selain itu harus ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitar, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat, dan pengaruh-pengaruh penemuan baru terhadap masyarakat dan kebudayaan.
Suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada spekulasi / cita-cita pada keadaan yang sempurna. Perencanaan sosial dari sudut sosiologi merupakan alat untuk mendapatkan perkembangan sosial, yakni dengan jalan menguasai serta memanfaatkan kekuatan alam dan sosial serta menciptakan tata tertib sosial.
Perencanaan sosial juga bertujuan untuk menghilangkan / membatasi keterbelakangan unsur-unsur kebudayaan material / teknologi. Suatu gejala dewasa ini adalah timbulnya masalah sosial yang disebabkan oleh keterbelakangan di bidang teknologi. Beberapa bentuk permasalahan yang berkaitan dengan penyalahgunaan sumber-sumber alam, demoralisasi kehidupan keluarga, angka kejahatan yang tinggi, dan sakit jiwa, merupakan akibat dari keterbelakangan di bidang teknologi.
Hal pertama yang harus ditempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menyesuaikan lembaga-lembaga kemasyarakatan dengan kondisi-kondisi kemajuan serta perkembangan teknologi yang ada. Sesudah hal itu diatasi barulah mengatasi permasalahan-permasalahan yang mengganggu masyarakat. Penyesuaian terhadap kehidupan yang berkembang bergantung pada adanya suatu pengertian mengenai bekerjanya masyarakat.
Menurut George A Ludenberg, ketidaksanggupan memecahkan masalah disebabkan oleh;
  • kurangnya pengertian terhadap sifat hakikat masyarakat dan kekuatan-kekuatan yang membentuk hubungan antar manusia
  • kepercayaan bahwa masalah sosial dapat diatasi dengan adanya keinginan untuk memecahkan permasalahan tersebut tanpa mengadakan penelitian-penelitian yang mendalam dan objektif.
Menurut Ludenberg, kesukaran yang utama terletak pada kepercayaan umum bahwa hubungan-hubungan sosial tidak tunduk pada penelitian ilmiah. Juga karena masyarakat percaya bahwa pemecahan-pemecahan masalah sosial telah diketahui dan tinggal diterapkan saja. Kepercayaan tersebut merupakan anggapan yang keliru, karena setiap masalah sosial harus diteliti agar diketahui faktor-faktornya supaya diketemukan cara-cara untuk mengatasinya. Perencanaan sosial bukanlah semata-mata menjadi tugas para ahli ataupun aparat negara, melainkan memerlukan dukungan masyarakat, karena masyarakat terlibat di dalamnya.
Suatu perencanaan sosial tidak akan berarti jika individu-individu anggota masyarakat tidak belajar untuk menelaah gejalagejala sosial secara objektif, sehingga masing-masing dapat turut serta dalam perencanaan itu. Untuk melaksanakan perencanaan sosial dengan baik diperlukan organisasi yang baik, yang berarti adanya disiplin di satu pihak serta hilangnya kebebasan di pihak lain. Suatu konsentrasi wewenang juga diperlukan untuk merumuskan dan menjalankan perencanaan agar tidak terseret oleh perubahan-perubahan tekanan atau kepentingan-kepentingan dari golongan yang sudah mapan. Perlu adanya upaya proses pelembagaan dalam diri warga masyarakat dalam hal perencanaan sosial itu.