Kebijakan Pendidikan di Myanmar

Kebijakan Pendidikan di Myanmar

Myanmar merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang telah berpuluh-puluh tahun dalam cengkraman kekuasaan junta militer. Sekarang ini, Myanmar sedang membangun dan mengejar ketertinggalannya dalam pendidikan. Menurut data dari Welle (2019), Myanmar menempati urutan ke 150 dunia dengan skor EDI sebesar 0,371. Dan tercatat sebanyak 19% penduduk Myanmar yang pernah mengenyam pendidikan menengah.

Myanmar memiliki populasi lebih dari 61 juta dan memiliki daratan terbesar kedua di Asia Tenggara. Myanmar juga memiliki PDB per kapita sebesar US $ 875 pada tahun 2011. Dari seperempat populasi yang ada, sekitar 25,6% pada tahun 2011 masyarakat di Mayanmar terkena dampak serius akibat kemiskinan. Di Myanmar terdapat keragaman etnis dengan lebih dari 130 kebangsaan etnis yang berbeda, diantaranya meliputi: kelompok etnis Bamar terdapat sekitar 68% dari populasi, kelompok etnis lainnya yaitu Shan sebanyak 9%, Karen sebanyak 6%, dan Rakhine sebanyak 4%, semua etnis tersebut cenderung tinggal di daerah yang lebih terpencil dan di dataran tinggi. Kementerian Pendidikan Myamar bertanggung jawab atas penyediaan pendidikan dasar. Dua kementerian lain yang juga berperan adalah Kementerian Agama (yang bertanggung jawab atas sekolah monastik) dan Kementerian Urusan Perbatasan (sebagian bertanggung jawab atas sekolah di daerah terpencil).

Pada Februari 2012, Kementerian Pendidikan Myamar memprakarsai Tinjauan Sektor Pendidikan Komprehensif, yang tujuannya adalah untuk mempromosikan “masyarakat pembelajar yang mampu menghadapi tantangan zaman pengetahuan”. Ulasan tersebut sudah memiliki nilai simbolis yang sangat besar karena memberi harapan bahwa setiap anak di Myanmar akan memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan dasar yang berkualitas baik dan yang akan dihasilkannya yaitu rencana sektor pendidikan berbiaya setelah fase 3 untuk pengembangan pendidikan di Myanmar.

Tingkat melek huruf orang dewasa pada tahun 2011 di Myanmar sebanyak 95,01% berada di atas rata-rata regional UNESCO yang sebesar 94,7%. Dan tingkat melek huruf yang dicapai oleh kaum muda berusia 15 hingga 24 tahun pada tahun 2012 terdapat sebanyak 98,54% untuk pria dan 97,17% untuk wanita. Di Myanmar juga telah membangun sekolah baru sekitar 135 sekolah untuk sekolah menengah atas, 233 untuk sekolah menengah pertama dan 1025 untuk sekolah dasar. Serta perekrutan guru baru telah  di sekolah sebanyak 79 guru di sekolah menengah atas, 486 guru di sekolah menengah pertama dan 4122 guru di sekolah dasar. Struktur sekolah umum di Myanmar menggunakan pola 5-4-2, yaitu lima tahun primer, empat tahun menengah bawah (pertama), dan dua tahun menengah atas.

Pendidikan dasar di Myanmar pada tahun 2010 s.d. 2011 diperkirakan jumlah peserta didik yang mendaftar ke sekolah adalah  84,61% dan  menunjukkan bahwa tidak semua peserta didik yang sekolah tersebut dapat sampai berhasil menyelesaikan sekolah dasar, mereka hanya sampai  pada kelas 5. Hal tersebut dikarenakan terjadi kendala yang berhubungan dengan keterjangkauan biaya sekolah dan akses. Menjelang akhir tahun sekolah dasar, hanya sekitar 70% peserta didik yang mulai di sekolah dasar lima tahun yang sebelumnya tetap terdaftar. Namun sekitar 50% peserta didik yang bersekolah selama 6 tahun (kelas 6) yang masih bertahan atau masih terdaftar sebagai murid.  Kemudian terus berlanjut pada kelas 10 hanya sekitar 28,6% peserta didik yang dapat bertahan di sekolah dasar sebagai murid. Sedangkan antara kelas 10 dan kelas 11, dan pada tahun terakhir sekolah menengah hanya 23,9% dari peserta didik yang ada masih terdaftar sebagai.

sumber :