Kedudukan Qiyas Sebagai Hujjah

Kedudukan Qiyas Sebagai Hujjah

Dalam pandangan jumhur ulama, qiyas adalah hujjah syara’ atas hukum-hukum sebangsa perbuatan dan sebagai hujjah syara’ yang keempat. Artinya, apabila  hukum suatu peristiwa (kedua) itu tidak ditemukan adanya nash atau ijma’ sudah pasti memiliki kesamaan illat dengan peristiwa (pertama) yang ada nash hukumnya, maka peristiwa kedua diqiyaskan dengan masalah pertama dan dihukumi sama dengan hukum pada masalah pertama. Hukum itu menjadi ketetapan syara’ yang wajib diikuti dan diamalkan oleh mukallaf, sedangkan jumhur ulama itu disebut orang-orang yang menetapkan qiyas.[9]

Mengenai hal ini, kedudukan qiyas sebagai Hujjah para ulama berbeda pendapat. Ada sebagian ulama yang menetapkan qiyas sebagai salah satu sumber hukum, dan juga ada sebagian ulama yang menolaknya. Para ulama yang menetapkan kekuatan qiyas sebagai hujjah dengan mengambil dalil-dalil dari Al-quran, As-sunnah, pendapat dan perbuatan sahabat, juga illa-illat rasional.

Sedangkan diantara alasan yang paling kuat sebagian ulama yang menolak qiyas yaitu, mereka berpendapat bahwa qiyas itu didasarkan pada dugaan. Yakni illat hukum nash itu begini. Padahal sesuatu yang didasarkan pada dugaan hasilnya adalah dugaan. Allah swt. Mencegah kepada orang-orang yang mengikuti dugaan. Denngan firmannya:

Ÿwur  ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur ‘@ä. y7Í´¯»s9’ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ

“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (surat al isro 36)

Sumber :

https://littlehorribles.com/