Keruntuhan Peradaban

Keruntuhan Peradaban

Keruntuhan Peradaban

Karena nilai rasionalitas tidak sekuat nilai spiritual dalam mengkondisikan diri manusia, naluri pada masa-masa kejayaan peradaban mulai mengalami pelepasan. Pada puncaknya jika naluri mengendalikan diri manusia, secara sosial sebuah peradaban sudah mulai meluncur menuju keruntuhan. Beginilah keruntuhan peradaban bermula, yaitu ketika naluri, insting mulai mengendalikan diri manusia. Kemudian rusakklah jaringan sosial masyarakat. Dengan kerusakan jaringan sosial ini ide, pribadi dan benda menjadi tidak efektif, sehingga dinamika sosial menjadi berhenti, pencapaian menjadi mandul.

Kerusakan kemudian menyentuh faktor-faktor ini. Muncullah ide-ide yang beku dan mati bahkan mematikan. Muncullah penyembahan atas orang/pribadi. Muncullah ideologi bendaisme, dalam arti mengukur segala sesuatunya secara bendawi dan menumpuk-numpuk benda sebagai parameter kehidupan. Manusia yang muncul setelah titik C dalam diagram di atas adalah manusia pasca-peradaban, yang tidak lagi memiliki efektifitas untuk menggerakkan peradaban. Ini berbeda dengan manusia yang menjadi modal pada titik A (manusia pra-peradaban, Bennabi menyebutnya sebagai manusia fitrah). Ia mengibaratkan seperti beda antara air yang mengalir sebelum menggerakkan turbin pembangkit listrik dan air yang mengalir keluar dari turbin itu. Titik kejatuhan peradaban Islam dalam skema di samping bermula sejak zaman Ibn Khaldun.


Baca Juga :