Lepas 925 Lulusan, Universitas Prasetiya Mulya Siap Dukung Langkah Indonesia Menuju Singularity Economy

Lepas 925 Lulusan, Universitas Prasetiya Mulya Siap Dukung Langkah Indonesia Menuju Singularity Economy

Lepas 925 Lulusan, Universitas Prasetiya Mulya Siap Dukung Langkah Indonesia Menuju Singularity Economy
Lepas 925 Lulusan, Universitas Prasetiya Mulya Siap Dukung Langkah Indonesia Menuju Singularity Economy

Jakarta – Teknologi kecerdasan buatan (artificial inteligence) telah mampu menggantikan peran manusia

di beberapa sektor pekerjaan, bahkan dengan hasil yang lebih akurat dan efisien. Perkembangan tersebut cepat atau lambat akan mendorong terciptanya babak baru, yaitu economic singularity, dimana penggunaan teknologi kecerdasan buatan semakin berkembang, berdampingan dengan kecerdasan manusia.

Sebagai langkah untuk mengantisipasi hal tersebut, Universitas Prasetiya Mulya mengajak para lulusannya untuk bersama mendukung Indonesia menuju economic singularity pada acara wisuda yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center pada Selasa (11/12/2018) dengan tema ”Powering Indonesia’s Ascent to the Singularity Economy”.

Prof. Ben Shenglin, Professor and Dean, Academy of Internet Finance and International Business School, Zhejiang University  menjelaskan, Singularity telah diperluas dari matematika ke ranah kecerdasan visual melalui buku oleh Raymond Kurzweii yang berjudul “The Singularity Is Near”. Buku tersebut merujuk pada momen penting ketika kecerdasan buatan melampaui kemanusiaan dan memicu perubahan drastis dalam iingkungan sosial.

“Dampak transformative dari kecerdasan buatan pada aktivitas ekonomi sudah tidak terbantahkan

, begitu juga pada pasar tenaga kerja. Akan tetapi sebagai teknologi yang masih baru, adaptasi dari kecerdasan buatan dalam bidang ekonomi dan finansial masih pada tahap awal dan akan memiliki dampak positif pada aktifitas ekonomi, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan manusia, bila ada tuntunan dari peraturan yang positif dan efektif,” jelas Prof. Ben Shenglin di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Menurut laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF) dengan judul ”The Future of Jobs 2018”, mesin dan algoritma di lingkungan kerja diperkirakan akan menciptakan 133 juta peran baru dibandingkan dengan 75 juta pekerjaan yang akan digantikan pada tahun 2022, yang berarti pertumbuhan dari kecerdasan buatan dapat menciptakan 58 juta pekerjaan baru dalam beberapa tahun ke depan. Hal tersebut semakin menegaskan fakta sejarah bahwa, setiap pergeseran teknologi sejauh ini berakhir dengan terciptanya lebih banyak pekerjaan dari yang digantikan.

Prof. Dr. Djisman Simandjuntak selaku Rektor Universitas Prasetiya Mulya menjelaskan

, kecerdasan buatan mungkin akan mengurangi lapangan pekerjaan atau membuat banyak pekerjaan menjadi tidak lagi diperlukan, kebanyakan lebih kepada pekerjaan standar dan berulang. Hal tersebut akan memberikan waktu dan kesempatan yang lebih banyak kepada orang-orang untuk mengejar karir yang lebih kreatif dan menyenangkan.

Sumber :

https://thesrirachacookbook.com/teks-laporan-hasil-observasi/