Mengenal Teknik-Teknik dalam Konseling

Mengenal Teknik-Teknik dalam Konseling

Mengenal Teknik-Teknik dalam Konseling
Mengenal Teknik-Teknik dalam Konseling
  1. Melayani (Attending)

            Carkhuff (dalam Lubis 2011: 92) menyatakan bahwa melayani klien secara pribadi merupakan upayayang dilakukan konselor dalam memberikan perhatian secara total kepada klien. Hal ini ditampilkan melalui sikap tubuh dan ekspresi wajah. Secara lebih rinci, berikut ini dikemukakan sikap melayani (attending) yang baik, yakni:

1)        Kepala, melakukan anggukan jika setuju

2)        Ekspresi wajah, tenang, ceria, senyum

3)        Posisi tubuh, agak condong ke arah klien, jarak konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.

4)        Tangan, variasi gerakan tangan/ lengan spontan berubah- ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan gerakan tangan untuk menekankan ucapan.

5)        Mendengar aktif, aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.

            Menurut Willis (2011:176), Attending yang ditampilkan konselor akan mempengaruhi kepribadian klien, yaitu:

  1. Meningkatkan harga diri klien, sebab sikap dan perilaku attendingmemungkinkan konselor menghargai klien. Karena dia dihargai, maka rasa harga diri ada atau meningkat.
  2. Dengan perilaku attending dapat menciptakan suasana aman bagi klien, karena klien merasa ada orang yang bisa di pecayai, teman untuk bicara, dan merasa terlindungi secara emosional.
  3. Perilaku attending memberikan keyakinan kepada klien bahwa konselor adalah tempat dia mudah untuk mencurahkan segala isi hati dan perasaannya.

Adapun perilaku Attending yang tidak baik ditampilkan melalui sikap- sikapmenurut Carkhuff (dalam Lubis 2011: 94) adalah sebagai berikut :

1)        Kepala, kaku.

2)        Muka, kaku, ekspresif melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot.

3)        Posisi tubuh, tegak, kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling.

4)        Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berpikir dan berbicara.

5)        Perhatian, terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.

  1.  

    Empati

Secara umum, empati dapat diartikan sebagai kemampuan konselor untuk dapat merasakan dan menempatkan dirinya di posisi klien.

  1.  

    Refleksi

Secara lebih sederhana, refleksi dapat didefenisikan sebagaai upaya konselor memperoleh informasi lebih mendalam tentang apa yang dirasakan oleh klien dengan cara memantulkan kembali perasaan, pikiran dan pengalaman klien.

  1.  

    Eksplorasi

Adalah suatu keterampilan konselor untuk menggali perasaan, pengalaman dan pikiran klien.Hal ini penting, karena kebanyakan klien menyimpan rahasia batin, menutup atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya dengan terus terang.

  1.  Menangkap pesan utama (Paraphrasing)

   Intinya adalah konselor  dapat menyampaikan kembali inti pernyataan klien secara lebih sederhana.

  1. Bertanya untuk Membuka Percakapan (Open Question)

         Pertanyaan- pertanyaan terbuka (open question) sangat diperlukan untuk memunculkan pernyataan- pernyataan baru dari klien.

  1. Bertanya Tertutup (Closed Question)

         Tujuan pertanyaan tertutup adalah: (1) mengumpulkan informasi; (2) untuk menjernihkan atau memperjelas sesuatu; dan (3) menghentikan omongan klien yang melantur atau menyimpang jauh.

  1. Dorongan Minimal (Minimal Encouragement)

            Tujuannya adalah membuat klien semakin semangat untuk menyampaikan masalahnya dan mengarahkan pembicaraan agar mencapai sasaran dan tujuan konseling.

  1. Interpretasi

            Tujuannya adalah untuk memberikan rujukan dan pandangan atas perilaku klien agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dan hasil rujukan baru tersebut.

  1. Mengarahkan (Directing)

         Tujuannya adalah agar klien bersedia melakukan sesuatu, misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor, atau mengkhayalkan sesuatu.

  1. Menyimpulkan Sementara (Summarizing)

         Hasil percakapan antara konselor dank lien hendaknya disimpulkan sementara oleh konselor untuk memberikan gambaran kilas balik (feedback) atas hal- hal yang telah dibicarakan sehingga klien dapat menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap, meningkatkan ualitas diskusi, dan mempertajam atau memperjelas fokus pada wawancara konseling.

  1. Memimpin (Leading)

         Dalam hal ini, seorang konselor diharapkan memiliki keterampilan untuk memimpin percakapan agar tidak menyimpang dari permasalahan sehingga tujuan konseling yang utama dapat tercapai sesuai sasarannya.

  1.  Konfrontasi

            Konfrontasi adalah suatu teknik konseling yang menantang klien untuk melihat adanya diskrepansi atau inkonsistensi antara perkataan dan bahasa badan (perbuatan), ide awal dengan ide berikutnya,senyum dengan kepedihan, dan sebagainya.

  1. Menjernihkan (Clarifying)

            Ketika klien menyampaikan permasalahannya dengan kurang jelas attau samar- samar bahkan dengan keraguan, maka tugas konselor adalah melakukan klarifikasi untuk memperjelas apa sebenarnya yang ingin disampikan oleh klien. Konselor harus melakukannya dengan bahasa dan alasan yang rasional sehingga mudah dipahami oleh klien.

  1. Memudahkan (Facilitating)

         Adalah suatu keterampilan membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan manyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas. Sehingga komunikasi dan partisipasi meningkat dan proses konseling berjalan efektif.

  1. Diam

            Dalam proses konseling, adakalanya seorang konselor perlu untuk bersikap diam. Adapun alasan konselor melakukan hal ini dapat dikarenakan konselor yang menunggu klien berpikir, bentuk protes karena klien bicara dengan berbelit- belit atau menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien bebas bicara. Diam disini bukan berarti tidak ada komunikasi melainkan tetap ada yaitu melalui perilaku nonverbal. Yang paling ideal, diam itu paling tinggi 5- 10 detik dan selebihnya dapat diganti dengan dorongan minimal.

  1. Mengambil Inisiatif

            Konselor juga harus dapat mengambil inisiatif apabila klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang partisipatif.Konselor mengucapkan kata- kata yang mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Selain itu, inisiatif juga  diperlukan apabila klien kehilangan arah pembicarannya.

  1. Memberi Nasihat

            Pemberian nasihat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.Walau demikian, konselor tetap harus mempertimbangkan, apakah pantas untuk memberi nasihat atau tidak.

  1. Memberikan Informasi

 Dalam hal informasi yang diminta klien, sama halnya dengan pemberian nasehat. Jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakana bahwa konseir tidak mengetahui hal itu.Akan tetapi, jika konselor mengetahui informasi, sebaiknya upayakan agar klien tetap mengusahakannya.

  1. Merencanakan

 Tahap perencanaan disini maksudnya adalah membicarakan kepada klien hal- hal apa yang akan menjadi program atau aksi nyata dari hasil konseling. Tujuannya adalah menjadi produktif setelah mengikuti konseling.

  1. Menyimpulkan

Bersamaan dengan berakhirnya sesi konseling, maka sebaiknya konselor menyimpulkan hasil pembicaraan secara keseluruhan yang menyangkut tentang pikiran, perasaan klien sebelum dan setelah mengikuti proses konseling. Selain itu bantulah klien untuk memantapkan rencana- rencana yang telah disusunnya.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa teknik dalam konseling terdiri dari teknik attending, empati refleksi, eksplorasi, menangkap pesan utama, membuka percakapan, bertanya tertutup, dorongan minimal, interpretasi, mengarahkan, menyimpulkan sementara, memimpin, konfrontasi, menjernihkan, memudahkan, diam, mengambil inisiatif, memberi nasihat, memberikan informasi, merencanakan dan menyimpulkan

(Sumber: https://thesrirachacookbook.com/)