Pentingnya Pertolongan Pertama Pada Cedera Kepala

Pentingnya Pertolongan Pertama Pada Cedera Kepala – Cedera kepala ketika ini menduduki urutan teratas penyumbang permasalahan kematian terbesar untuk usia produktif dan beberapa besar diakibatkan kecelakaan kemudian lintas.

Hal itu diperparah dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam memakai alat pelindung diri ketika berkendara. Dokter spesialis bedah saraf RS Evasari, dr Arnanda Noor, SpBS, mengemukakan cedera kepala adalahproses patologis pada jaringan benak yang mempunyai sifat non-degeneratif, non-congenital, dan disaksikan dari keselamatan mekanis dari luar, yang mungkin mengakibatkan gangguan faedah kognitif, fisik, serta psikososial mempunyai sifat menetap maupun sedangkan disertai hilangnya atau berubahnya tingkat kesadaran.

“Penting diacuhkan penanganan yang tepat di tempat kejadian dan proses pengungsian korban ke lokasi tinggal sakit supaya jiwa tertolong. Angka kejadian di Amerika, cedera kepala menjangkau 500 ribu permasalahan per tahun, dari kejadian itu 10% korban meninggal dunia di tempat, 90% tertolong sampai lokasi tinggal sakit,” kata dr Arnanda.

Menurutnya, bantuan atau penanganan yang tepat memegang peranan urgen dalam permasalahan cedera kepala. “Pasien dengan cedera kepala butuh observasi atau dirawat bilamana CT scan abnormal, cedera tembus, riwayat hilang kesadaran, sakit kepala sedang hingga berat, intoksikasi alkohol, fraktur tulang kepala, cedera penyerta bermakna, tak ada family di rumah, lokasi tinggal jauh maupun merasakan amnesia,” ujar dr Arnanda.

Ia menjelaskan, ada sejumlah langkah bantuan kesatu andai melihat korban kemalangan di jalan di antaranya simaklah jalan napas, pola napas, baru selamatkan lehernya terlebih dahulu, dan segera diangkut ke lokasi tinggal sakit.

“Yang mengakibatkan semakin parah ialah kerumunan orang sebab oksigen bakal berkurang dan teknik evakuasi, teknik mengusung korban pun suka salah. Kita mesti mengawal tulang belakangnya juga, setelah disaksikan tidak terdapat keluhan atau patahan, baru boleh memungut tindakan head up , yakni kepala diusung sekitar 30 derajat,” kata dr Arnanda.

Menurutnya, ketika ini masyarakat masih mesti tidak sedikit diberi pelatihan basic trauma life support . “Itu mesti diajarkan. Kalau di luar negeri bahkan supir ambulansnya pun telah mengerti, tetapi sekarang sudah tidak sedikit juga lokasi tinggal sakit menciptakan trauma center guna penanganan pasien trauma, di bawah 4 jam telah harus diangkut ke lokasi tinggal sakit.

Tetapi memang tergantung cedera kepala tersebut sendiri, andai memang berat usahakan cepat dibawa,” ucapnya. Ia menambahkan, andai ada pasien dengan cedera kepala baru kemudian ia terbius atau separuh sadar, usahakan tidak boleh diberi minum.

“Karena andai refleks menelannya telah tidak ada, nanti bakal ditakutkan terjadi aspirasi, yakni air masuk ke paru-paru, efeknya bakal memperberat gangguan sistem pernapasan,” kata dr Arnanda.

Cedera kepala ketika ini menduduki urutan teratas penyumbang permasalahan kematian terbesar untuk usia produktif dan beberapa besar diakibatkan kecelakaan kemudian lintas. Hal itu diperparah dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam memakai alat pelindung diri ketika berkendara.Dokter spesialis bedah saraf RS Evasari, dr Arnanda Noor, SpBS, mengemukakan cedera kepala adalah proses patologis pada jaringan benak yang mempunyai sifat non-degeneratif, non-congenital, dan disaksikan dari keselamatan mekanis dari luar, yang mungkin mengakibatkan gangguan faedah kognitif, fisik, serta psikososial mempunyai sifat menetap maupun sedangkan disertai hilangnya atau berubahnya tingkat kesadaran.

“Penting diacuhkan penanganan yang tepat di tempat kejadian dan proses pengungsian korban ke lokasi tinggal sakit supaya jiwa tertolong. Angka kejadian di Amerika, cedera kepala menjangkau 500 ribu permasalahan per tahun, dari kejadian itu 10% korban meninggal dunia di tempat, 90% tertolong sampai lokasi tinggal sakit,” kata dr Arnanda.

Menurutnya, bantuan atau penanganan yang tepat memegang peranan urgen dalam permasalahan cedera kepala. “Pasien dengan cedera kepala butuh observasi atau dirawat bilamana CT scan abnormal, cedera tembus, riwayat hilang kesadaran, sakit kepala sedang hingga berat, intoksikasi alkohol, fraktur tulang kepala, cedera penyerta bermakna, tak ada family di rumah, lokasi tinggal jauh maupun merasakan amnesia,” ujar dr Arnanda.

Ia menjelaskan, ada sejumlah langkah bantuan kesatu andai melihat korban kemalangan di jalan di antaranya simaklah jalan napas, pola napas, baru selamatkan lehernya terlebih dahulu, dan segera diangkut ke lokasi tinggal sakit.

“Yang mengakibatkan semakin parah ialah kerumunan orang sebab oksigen bakal berkurang dan teknik evakuasi, teknik mengusung korban pun suka salah. Kita mesti mengawal tulang belakangnya juga, setelah disaksikan tidak terdapat keluhan atau patahan, baru boleh memungut tindakan head up , yakni kepala diusung sekitar 30 derajat,” kata dr Arnanda.

Menurutnya, ketika ini masyarakat masih mesti tidak sedikit diberi pelatihan basic trauma life support . “Itu mesti diajarkan. Kalau di luar negeri bahkan supir ambulansnya pun telah mengerti, tetapi sekarang sudah tidak sedikit juga lokasi tinggal sakit menciptakan trauma center guna penanganan pasien trauma, di bawah 4 jam telah harus diangkut ke lokasi tinggal sakit.

Tetapi memang tergantung cedera kepala tersebut sendiri, andai memang berat usahakan cepat dibawa,” ucapnya. Ia menambahkan, andai ada pasien dengan cedera kepala baru kemudian ia terbius atau separuh sadar, usahakan tidak boleh diberi minum.

“Karena andai refleks menelannya telah tidak ada, nanti bakal ditakutkan terjadi aspirasi, yakni air masuk ke paru-paru, efeknya bakal memperberat gangguan sistem pernapasan,” kata dr Arnanda.

Baca Juga: