Pertumbuhan Ascomycota

Pertumbuhan Ascomycota

Pertumbuhan Ascomycota

Dari askogonium tumbuh hifa dikariotik

Pada ujung hifa terjadi singami dan terbentuk askus. Di dalam askus terjadi fertilisasi antara 2 inti sehingga terbentuk sel diploid. Sel diploid mengadakan pembelahan meiosis sehingga terbentuk 4 sel anak haploid. Masing-masing sel anak haploid mengadakan pembelahan mitosis dan terbentuk 8 sel askospora yang haploid.


Jamur benang juga memiliki kurva pertumbuhan seperti semua mikroorganisme. Kurva tersebut diperoleh dari menghitung massa sel pada jamur benang dalam waktu tertentu. Kurva pertumbuhannya memiliki beberapa fase, antara lain (Gandjar dkk., 2006):

  1. Fase Lag, yaitu fase penyesuaian sel-sel dengan lingkungan, pembentukan enzim-enzim untuk mengurangi substrat.
  2. Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan menjadi aktif.
  3. Fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat banyak, aktivitas sel sangat meningkat, dan fase ini merupakan fase yang penting dalam kehidupan fungi. Pada awal dari fase ini, enzim-enzim dapat dipanen pada fase akhir ini.
  4. Fase deselerasi, yaitu waktu sel-sel mulai kurang aktif membelah. Pada fase ini dapat dipanen biomassa sel atau senyawa-senyawa yang tidak lagi diperlukan oleh sel-sel.
  5. Fase stasioner, yaitu fase jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel yang mati relatif seimbang. Kurva pada fase ini merupakan garis lurus yang Senyawa metabolit sekunder padat dipanen pada fase ini.
  6. Fase kematian dipercepat, jumlah sel-sel yang mati atau tidak aktif sama sekali lebih banyak daripada sel-sel yang masih hidup.

Aspergillus dapat tumbuh optimum pada suhu 35- 37°C, dengan suhu minimum 6-8 °C, dan suhu maksimum 45-47°C. Selain itu, dalam proses pertumbuhannya fungi ini memerlukan oksigen yang cukup (Madigan dan Martinko, 2006). Aspergillus dalam pertumbuhannya berhubungan langsung dengan zat makanan yang terdapat dalam substrat, molekul sederhana yang terdapat disekeliling hifa dapat langsung diserap sedangkan molekul yang lebih kompleks harus dipecah dahulu sebelum diserap ke dalam sel,

dengan menghasilkan beberapa enzim ekstraseluler seperti protease, amilase, mananase, dan α-glaktosidase (Madigan dan Martinko, 2006). Bahan organik dari substrat digunakan oleh Aspergillus untuk aktivitas transport molekul, pemeliharaan struktur sel, dan mobilitas sel (Madigan dan Martinko, 2006; Samson dkk., 2001).


Sel-sel hifa yang tua senantiasa mengalirkan nutrien ke sel-sel apikal agar hifa dapat tumbuh terus. Sel-sel apikal ukurannya lebih besar dibandingkan sel-sel hifa lainnya. Pembentukan cabang pada hifa dapat terbentuk sepanjang hifa. Cabang hifa tersebut akan menjauhi hifa induk atau hifa pertama agar nutrien dilingkungan dapat terjangkau sejauh mungkin.


Pembentukan miselium terjadi karena anastomosis pada titik temu atau titik-titik sentuh cabang-cabang hifa. Anastomosis hifa mempunyai dua peran yaitu pertama memperluas sistem hifa menjadi suatu jala yang disebut miselium untuk memungkinkan penyerapan nutrien dari substrat seefisien mungkin dan juga untuk memfasilitasi pembentukan tubuh buah yang besar. Kedua untuk mempersatukan hifa yang terpisah (Tarigan, 1988).


Sumber: https://www.senantiasatour.co.id/wheels-of-aurelia-apk/