Policy Brief Ketersedian Sekolah Inklusi dan Dilema Akses Bagi Difabel

Policy Brief Ketersedian Sekolah Inklusi dan Dilema Akses Bagi Difabel

Policy Brief Ketersedian Sekolah Inklusi dan Dilema Akses Bagi Difabel
Policy Brief Ketersedian Sekolah Inklusi dan Dilema Akses Bagi Difabel

Yang perlu dicermati dari Kebijakan Pemerintah membentuk Sekolah Inklusi

bukan hanya terpaku pada Biaya Operational yang lebih ting-gi dari Sekolah Umum biasa. Namun jauh lebih kompleks, mulai dari kesiapan para Guru Pengajar (utamanya yang ditunjuk sebagai Guru Pendamping Khusus), Fasilitas Belajar Mengajar bagi Difabel (kebu-tuhannya berbeda antara Difabel Daksa, Rungu, Rungu Wicara, Netra dan Difabel Mental/Intelektual), kurikulum yang sesuai dengan ke-mampuan anak Difabel serta dukungan dari para orangtua untuk turut serta menggali dan mengembangkan Potensi anaknya.

Secara umum, Sekolah Inklusi ini menjamin anak-anak Difabel

uta-manya yang kurang mampu dapat menamatkan Pendidikan Dasar 12 tahun (WAJAR12 tahun).

Sebagai suatu inovasi yang populis, sudah barang tentu kebijakan ini menghasilkan respon yang berbeda-beda dari masyarakat. Salah satunya adalah penentangan dari kelompok orangtua murid

yang merasa diru-gikan. Dalam hal ini pengurangan kuota 20%

yang diberikan untuk anak Difabel karena dianggap mengurangi porsi anak non Difabel untuk dapat diterima di Sekolah Favorit yang ditunjuk sebagai Sekolah Inklusi.

 

Sumber :

http://revistas.uned.es/index.php/accionpsicologica/comment/view/520/460/121054