Rukun dan Syarat Qiyas

Rukun dan Syarat Qiyas

  1. Rukun Qiyas

 Adapun rukun-rukun qiyas ada empat macam:

  1. Al Ashl(الأصل)

Yaitu sumber hukum yang berupa nash-nash yang menjelaskan tentang hukum, atau wilayah tempat sumber hukum.

  1. Al far’(الفرع)

Yaitu sesuatu yang tidak ada ketentuan nash.

  1. Al Hukm (الحكم)

Hukum yang dipergunakan qiyas untuk memperluas hukum dari ashl ke far’ (cabang).

  1. Al ‘ilat(العلة)

Yaitu alsan serupa antara asal dan far’ ( cabang).[7]

  1. Syarat-Syarat Qiyas
  2. Maqis ‘alaih

Yaitu tempat mengqiyaskan sesuatu kepadanya. Sebagaian ulama ada yang berpendapat bahwa maqis ‘alaih harus memenuhi syarat-syarat. Adapun syarat-syarat maqis ‘alih menurut sebagian ulama adalah:

  1. Harus ada dalil atau petunjuk yang membolehkan sesuatu kepadanya, baik secara nau’i atau syahsi(lingkungan yang sempit atau maksud terbatas).
  2. Harus ada kesepakatan ulama tentang adanya ‘ilat pada ashal Maqis ‘Alaih itu.
  3. Maqis

Yaitu sesuatu yang akan disamakan hukumnya dengan ashal. Untuk maqis ini terdapat beberapa Syarat. Sebagian dari syarat itu disepakati oleh para ulama dan sebagian lagi hanya dikemukakan oleh ‘ulama tertentu. Syarat-syarat maqis itu adalah sebagai berikut:

Ø  ‘Ilat yang terdapat dalam Furu’, memiliki kesamaan dengan ilat yang terdapat pada ashal.

Ø  Harus ada kesamaan antara furu’ itu dengan ashal. Dalam hal ‘ilat maupun hukum

Ø  Ketetapan hukum pada furu’ itu tidak menyalahi dalil qat’i.

Ø  Tidak dapat “penentang” (hukum lain) yang lebih kuat terhadap hukum pada furu’ dan hukum dalam penentang itu berlawanan dengan ‘ilat Qiyas itu.

Ø  Furu’ itu tidak pernah diatur hukumnya dalam nas tertentu.

Ø  Furu’ (sebagai maqis) itu tidak mendahului ashal (sebagai maqis ‘alaih dalam keberadaanya.

  1. Hukum asal

Yaitu hukum yang terdapat pada suatu wadah maqis ‘alaih yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash, dan hukum itu pula yang akan diberlakukan pada  furu’.

  1. ‘illat

Yaitu salah satu rukun atau unsure kias, bahkan merupakan unsure yang terpenting, karena adanya illat itllah yang menentukan adnya qiyas atau yang menentukan suatu hukum untuk dapat direntangkan kepada yang lain.[8]”

Sumber :

https://finbarroreilly.com/