Sedia Payung Sebelum Hujan

Sedia Payung Sebelum Hujan

Sedia Payung Sebelum Hujan

Dalam beberapa pidato yang menggetarkan hati jutaan pendengarnya, Presiden Soekarno beberapa kali menyelipkan petikan ayat suci Al-Quran. Dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) awal 1960-an umpamanya, orator ulung itu mengutip penggalan surat Ar-Ra’d 13: 11… “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri…”. Maksud Bung Karno kala itu menggemakan semangat bangsa Indonesia lewat forum internasional untuk mengubah keadaan (nasib) menjadi lebih baik di masa depan. Namun kini kenyataannya ?…

Musim penghujan tiba, seperti lazimnya, banjir akan melanda beberapa wilayah di Indonesia, misalnya ibu kota Jakarta. Selain banjir yang menjadi rutin dan seolah diterima sebagai ”takdir” itu, pemandangan yang juga lazim ditemui adalah pengguna sepeda motor yang ramai-ramai berteduh di bawah jembatan layang.

Terkadang para peneduh itu bahkan menutup ruas jalan sehingga menimbulkan kemacetan panjang. Hujan menjadi pembenar tindakan memblokade jalan. Sudah tahu motor tanpa atap, musim hujan pula, kenapa tidak menyiapkan jas hujan?. Seperti para pengendara sepeda motor, banyak pejalan kaki berteduh di emperan bangunan atau halte, menunggu hujan reda. ”Kebandelan” orang Indonesia itu agaknya sudah sejak lama sehingga orangtua kita dulu kerap mengingatkan agar sedia payung sebelum hujan.

Keadaan seperti ini berbeda dengan masyarakat di negara maju, misalnya negara Jepang. Bagi orang Jepang, tak ada alasan membatalkan janji atau terlambat karena hujan. Bukankah hujan terjadi sejak dulu?. Apa gunanya diciptakan payung dan jas hujan?. Bukankah sudah ada prakiraan cuaca berdasarkan ilmu meteorologi, klimatologi, dan geofisika?.

Di Indonesia, hujan menjadi alasan paling mudah diterima, selain kemacetan, untuk terlambat atau bahkan menunda acara penting. Masalah sedia mantel atau payung sebelum hujan itu barangkali soal sepele, tetapi mencerminkan ekspresi kebudayaan kita dalam merespons alam.

Bagi orang Jepang, alam bukanlah alasan menghentikan kegiatan. Fenomena alam yang kerap rutin harus disiasati. Itulah gunanya teknologi. Sebaliknya, bagi orang Indonesia, alam seolah tak perlu disiasati. ”Kalau hujan enggak jadi ya” menjadi istilah yang populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Seperti didefinisikan Kroeber dan Kluckhohn (1952), manusia bisa dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan cara pandangnya terhadap alam. Pertama, kelompok tradisional yang ditandai sikap tunduk dan pasrah terhadap alam. Kedua, kelompok transformasi, yaitu yang berusaha mencari keselarasan dengan alam. Ketiga, manusia modern yang berhasrat menguasai alam.

Atas dasar tipologi itu, Koentjaraningrat (1987) memasukkan orang Indonesia dalam kelompok tradisional dan sebagian kelompok transformasi. Jadi, sekalipun mengantongi smartphoneterbaru dengan fasilitas prediksi cuaca berdasarkan ilmu pengetahuan, orang Indonesia cenderung pasrah terhadap alam. Mereka akan menunggu alam bekerja dan malas menyiapkan diri menghadapinya.

Tak mengherankan jika mitigasi bencana—yang bisa dimaknai upaya menyiapkan diri menghadapi risiko bencana—tidak menjadi prioritas. Survei Litbang Kompas (2011) terhadap 806 responden di enam kota di Indonesia menunjukkan, tak lebih dari 10 persen responden sadar bahwa risiko bencana dapat dihindari atau dikurangi. Dengan alasan sama, kawasan yang pernah dilanda bencana alam selalu dihuni kembali, seperti pesisir Aceh dan Pangandaran, Jawa Barat, yang pernah dilanda tsunami. Bencana dianggap sebagai takdir dan manusia dianggap tak punya daya menolaknya!.

Padahal Al-Quran al-Karim dan banyak riwayat yang tak dapat diingkari di bidang ini, Nabi saw. ataupun dari para imam (aIaihimussalam), semuanya mengungkapkan dengan amat jelas dan gamblang, bahwa segala sesuatu terjadi dengan qadha dan qadar Ilahi; dan bahwa manusia adalah faktor yang berpengaruh dalam perjalanan nasibnya serta bertanggung jawab atas perbuatan dan tindakannya sendiri. Allah SWT menganugerahkan sifat mempengaruhi dan memberi akhir kepada segala sesuatu, tetapi pada waktu yang bersamaan, Ia adalah tetap sebagai Pemilik satu-satunya atas segala kekuatan, pemberi pengaruh dan akhir.

“Yang demikian itu dikarenakan Allah tiada akan mengubah nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah apa yang ada dalam dirinya sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al Anfaal 8: 53)”.

Sumber : https://filehippo.co.id/