Sultan kelima Dinasti ini yaitu Abbas I, berhasil memulihkan kekuasaan Dinasti Syafawi

PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM MASA DINASTI SYAFAWI

Kronologis berdirinya Dinasti Syafawiyah

Dinasti Syafawiyah pada mulanya adalah sebuah gerakan tarekat yang didirikan oleh Safi al-Din di Ardabil, Azerbaijan. Tarekat ini kemudian dikenal sebagai Tarekat Syafawiyah yang berasal dari nama pendiri tarekat ini. Tarekat Syafawiyah berkembang pesat di Persia, Syria, dan Anatolia atau Asia Kecil.
Fanatisme pengikut terekat ini mengantarkan mereka ingin turut serta dalam dunia perpolitikan. Dimulai dari Junaid yang ingin memasuki dunia perpolitikan sehingga bersinggungan dengan salah satu suku Turki, Kara Koyunlu, yang kemudian menimbulkan kekalahan dikalangan Syafawiyah. Juneid diasingkan, namun mendapat perlindungan dari suku Turki lainnya yaitu Ak-Koyunlu yang menguasai Diyar Bakr.
Haidar putra Juneid menjalin persekutan dengan Ak-koyunlu hingga berhasil mengalahkan Kara Koyunlu pada 1476 M, keberhasilannya menjadikan nama Syafawiyah semakin dikenal. Haidar menikahi putri Uzun Hasan penguasa Ak-koyunlu dan melahirkan Ismail. Persekutuan dengan Ak-koyunlu berakhir dengan bantuan yang diberikan oleh Ak-koyunlu pada musuh Syafawiyah. Hal ini diduga karena ketakutan Ak-koyunlu pada kekuatan Syafawiyah karena menaklukkan Kara Koyunlu. Haidar terbunuh pada perang itu sedangkan anak dan istrinya dipenjara.
Setelah bebas karena konflik internal penguasa Ak-koyunlu, Ismail putra Haidar mengambil alih kepemimpinan pengikut Syafawiyah. Selama lima tahun ia memPersiapkan pasukan yang diberi nama Qizilbash (baret merah). Pada 1501 M, pasukan qizilbash mengalahkan Ak-Koyunlu dalam peperangan didekat Nakhchivan dan berhasil menaklukkan Tabriz, pusat kekuasaan Ak- koyunlu. Di Tabriz, Ismail memproklamirkan berdirinya Dinasti syafawiyah denga dirinya sebagai raja pertama.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun pertamanya berkuasa, Ismail mampu menguasai seluruh wilayah Persia dan wilayah Subur “Bulan Sabit” yaitu daerah yang terbentang dari pesisir laut tengah kemudian masuk ke lembah antara sungai Eufrat dan Tigris – Mesopotamia – lalu ke Teluk Persia . Karena ambisi memperlebar wilayah kekuasaan, Ismail harus berhadapan dengan Sultan Salim dari Turki Usmani yang mengakibatkan jatuhnya Tabriz ketangan Turki Usmani. Dinasti Syafawi terselamatkan karena kepulangan Sultan Salim ke Turki karena adanya permasalah. Sepeninggalan Ismail, penerusnya masih memiliki konflik dengan Turki Ustmani.
Sultan kelima Dinasti ini yaitu Abbas I, berhasil memulihkan kekuasaan Dinasti Syafawi. Kebijakan awal yang diambilnya antara lain yaitu mengurangi dominasi pasukan qizilbas dan menggantinya dengan pasukan para budak, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan melepaskan sebagian wilayah Azerbaijan dan Georgia, berjanji tidak mencaci khalifah rasydah, dengan menyerahkan saudara sepupunya sebagai jaminan. Ekspansi pada masa Abbas I mampu menmbalikan Tabriz, Sirwan, Baghdad yang mengakibatkan permusuhan kembali Dinasti Turki Usmani dan Dinasti Syafawiyah. Dengan kebijakan dan kesuksesan ekspansi, Abbas I dianggap sebagai penguasa yang mengantarkan Dinasti Syafawiyah pada puncak kejayaannya.
Dalam perkembangannya, kondisi perpolitikan yang dijalakan Dinasti Syafawiyah berbeda dengan yang dijalankan oleh Turki usmani, sebagaimana sebuah Dinasti yang berdiri atas nama Islam, syafawiyah menjadikan syi’ah sebagai mazhab negaranya, dan memiliki pola pemerintahan teokratik, sebab para penguasa juga mengaku sebagai keturunan Ali , sehingga berpengaruh kepada hampir setiap aspek peradabaan Dinasti Syafawiyah dan dalam praktek penguasaan, Syafawi memiliki perbedaan dengan dinasti lainnya karena mengutamakan unsur-unsur kesukuan. Dalam perpolitikan, Syah atau Shah sebutan untuk raja penguasa Dinasti Syafawiyah.

RECENT POSTS