Variabel Kontrol

Variabel Kontrol

Variabel Kontrol
Variabel Kontrol

 

a. Hubungan Reputasi auditor terhadap Pengungkapan Sukarela Pelaporan Keuangan

Audit dilakukan sebagai wujud dari adanya hubungan kontrak antara pihak pemberi dan penerima dalam konsep agensi (Mesier, 2003). Variabel ini digunakan untuk melihat interaksi antara reputasi auditor the big four (Ernst&Young, Price Waterhouse and Coopers, KPMG, Deloitte) dan non-the big four dalam mempengaruhi pengungkapan laporan tahunan. Variabel ini menggunakan dummy, perusahaan yang diaudit oleh kantor akuntan publik the big four dicatat dengan 1 sedangkan yang tidak dicatat 0.
Berdasarkan penelitian Teoh dan Wong (1993) ditunjukkan pasar merespon secara berbeda terhadap kualitas auditor, yang diproksikan dengan auditor big 5 dan non big 5. Artinya semakin berkualitas auditor maka semakin tinggi kredibilitas angka akuntansi yang dilaporkan, dengan demikian semakin besar ERC.

b. Hubungan opini audit dengan Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan 

Publikasi laporan keuangan melalui media massa akan mempengaruhi keputusan berinvestasi para csalon investor. Hal ini disebabkan informasi yang terkandung di dalam laporan keuangan dianggap berita terbaru memgenai keadaan perusahaan di pasar modal.
Opini audit dapat memotivasi manajemen perusahaan untuk menyampaikan laporan keuanghan secara tepat. Hipotesis ini memberikan makna bahwa manajemen memandang penting opini audit sehingga sesegera mungkin disampaikan kepada pemakai informasi tersebut. Opini yang baik mengindikasikan bahwa perusahaan mempunyai berita baik (good news).

c. Hubungan Persistensi Laba dengan ERC

Definisi persistensi laba menurut Scott (2003) adalah revisi laba yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang diimplikasikan oleh inovasi laba tahun berjalan sehingga persistensi laba dilihat dari inovasi laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham. Semakin tinggi persistensi laba maka semakin tinggi ERC, hal ini berkaitan dengan kekuatan laba. Persistensi laba mencerminkan kualitas laba perusahaan dan menunjukkan bahwa perusahaan dapat mempertahankan laba dari waktu ke waktu. Kormendi dan Lipe (1987) menunjukkan bahwa persistensi laba berhubungan positif dengan ERC. Collins dan Kothari (1989) juga menemukan hubungan yang positif antara estimasi ERC dan persistensi dengan menggunakan perubahan laba sebagai proksi untuk unexpected earnings. Berbeda dengan Ali dan Zarowin (1992) yang menemukan bahwa estimasi error pada ERC secara negatif berhubungan dengan persistensi. Hal ini disebabkan beberapa analisa sebelumnya terhadap hubungan antara ERC dan persistensi adalah berlebihan.

d. Hubungan Pertumbuham Laba terhadap ERC

Penelitian tentang pertumbuhan laba dan koefisien respon laba telah dikemukakan oleh Collins dan Kothari (1989). Pertumbuhan laba diukur dengan rasio nilai pasar terhadap nilai buku ekuitas. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan laba mempunyai hubungan yang positif dengan koefisien respon laba.
Collins dan Kothari (1989) menyatakan bahwa kesempatan tumbuh berdampak pada laba masa depan dan begitu juga dengan ERC. Dengan kata lain, semakin tinggi kesempatan suatu perusahaan untuk tumbuh maka akan semakin tinggi ERC. Hal ini menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan mempunyai hubungan yang positif dengan ERC.